![]() |
| Lokasi : Depan taman mini, Serang - Banten tak jauh dari Hotel Wisata Baru. |
Penulis : Redaksi Ucup News.com
Perjalanan menuju peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2026 di Kota Serang, Banten, menjadi pengalaman yang tidak sekadar berpindah tempat, tetapi juga menyusuri jejak sejarah, budaya, dan nilai - nilai sosial yang hidup di tengah masyarakat.
Langkah dimulai dari Kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara, daerah pesisir yang kaya tradisi Melayu dan menjadi bagian dari dinamika sejarah Sumatera Timur, dari sana, rombongan bergerak menuju Bandara Internasional Kualanamu di Deli Serdang - bandara modern yang berdiri di wilayah bersejarah Kesultanan Deli.
Nama Medan pun tak bisa dilepaskan dari perjalanan tersebut, kota yang dahulu tumbuh dari industri perkebunan tembakau Deli itu kini menjelma menjadi pusat ekonomi dan budaya di Sumatera Utara, keberagaman etnis, Melayu, Batak, Tionghoa, India, dan lainnya, membentuk karakter kota yang dinamis dan terbuka.
Perjalanan udara membawa rombongan ke Bandara Soekarno - Hatta, Jakarta. Ibu Kota Republik Indonesia itu menyimpan sejarah panjang sejak era Sunda Kelapa, berubah menjadi Batavia pada masa kolonial, hingga akhirnya menjadi Jakarta setelah kemerdekaan, Jakarta adalah pusat pemerintahan sekaligus cermin denyut kehidupan bangsa - padat, cepat, dan penuh dinamika.
Dari Jakarta, perjalanan dilanjutkan menggunakan kereta menuju Banten, di sinilah pelajaran sosial terasa nyata, gerbong yang padat penumpang menjadi ruang ujian empati, ratusan orang berdiri, berdesakan, menunggu giliran, ketika yang muda telah duduk lebih dahulu, lalu seorang lanjut usia, ibu hamil, atau anak kecil masuk, hati dan nurani diuji, memberikan tempat duduk bukan hanya soal sopan santun, tetapi cerminan nilai kemanusiaan.
Akhirnya, tibalah di Kota Serang, ibu kota Provinsi Banten, kota itu memiliki sejarah kuat sebagai pusat Kesultanan Banten pada abad ke - 16, salah satu kerajaan Islam terbesar di Nusantara yang menjadi pusat perdagangan internasional, warisan sejarah itu masih terasa hingga kini, berpadu dengan wajah kota yang terus berkembang.
Serang menyambut dengan suasana yang asri dan tertata, bangunan pemerintahan dan kawasan perkotaan terlihat rapi, meski jalanan dipadati kendaraan, suasana tetap terasa relatif tenang tanpa kebisingan berlebihan, masyarakatnya dikenal santun dan menjunjung tinggi adat istiadat.
Pada malam hari, denyut kehidupan kota semakin terasa, salah satu titik keramaian yang ramai dikunjungi warga setiap malam berada di kawasan dekat Hotel Wisata Baru, tepatnya di area Taman Mini, lokasi itu menjadi ruang berkumpul masyarakat - mulai dari keluarga, anak muda, hingga komunitas lokal.
Lampu - lampu taman yang menyala menciptakan suasana hangat, pedagang kaki lima berjejer menawarkan aneka kuliner, dari jajanan tradisional hingga makanan kekinian, gelak tawa anak - anak yang bermain, percakapan santai warga, serta aktivitas komunitas menjadikan kawasan tersebut hidup dan penuh warna, taman Mini bukan sekadar ruang terbuka, tetapi menjadi simbol kebersamaan masyarakat Kota Serang.
HPN 2026 di Serang pun terasa lebih bermakna, bukan hanya karena agenda nasionalnya, tetapi karena perjalanan panjang yang dilalui dari tanah Melayu Sumatera Utara, melintasi hiruk - pikuk Jakarta, hingga tiba di bumi Kesultanan Banten.
Perjalanan itu seolah menegaskan bahwa pers bukan sekadar profesi, melainkan penghubung cerita antar daerah, penjaga nilai sosial, serta saksi perjalanan sejarah bangsa.
Dari Batu Bara ke Banten, HPN 2026 menjadi kisah tentang empati, sejarah, dan kebersamaan, sebuah perjalanan yang tak hanya ditempuh dengan langkah, tetapi juga dengan hati. (*)













0 Komentar