Batu Bara, Ucup News.com
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi andalan Presiden RI, Prabowo Subianto, kini terseret dugaan praktik kotor di tingkat pelaksana, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Sei Suka Deras diduga kuat menjadi titik rawan permainan monopoli hingga mark up harga bahan baku.
Alih - alih menjadi penggerak ekonomi rakyat, dapur MBG justru disebut - sebut dikuasai segelintir pihak, dugaan adanya “pemain tunggal” dalam suplai bahan baku menguat, mengindikasikan praktik yang terstruktur dan berpotensi melanggar aturan.
Aktivis Batu Bara, Rizki Akbar, menyebut adanya skenario pengondisian pemasok yang diduga melibatkan oknum internal.
“Kami menduga hanya satu orang berinisial R yang menguasai seluruh pasokan, Ini bukan kebetulan, ini diduga hasil kesepakatan dengan oknum SPPG berinisial N. Polanya rapi, terstruktur, dan sangat mencurigakan,” tegasnya, Sabtu (28/3/2026).
Tak berhenti di situ, dugaan mark up harga bahan baku, terutama selama Ramadan ikut menyeruak, praktik tersebut diduga terjadi melalui kongkalikong antara mitra dapur dan oknum pengelola SPPG.
Situasi itu dinilai bukan sekadar pelanggaran administratif, melainkan indikasi kuat praktik persaingan usaha tidak sehat yang bisa merusak fondasi program nasional.
“Ini seperti dapur negara tapi dikelola rasa ‘usaha pribadi’, satu pemasok, satu kendali, yang lain hanya jadi penonton,” sindir Rizki.
Sorotan juga mengarah pada legalitas dan kelayakan operasional dapur yang disebut berada di kawasan Simpang Kopi, isu pengelolaan limbah hingga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) pun ikut dipertanyakan.
“Kalau soal teknis saja diduga bermasalah, bagaimana dengan pengelolaan anggarannya? Ini harus dibongkar total,” lanjutnya.
Rizki mendesak Badan Gizi Nasional (BGN) turun tangan tanpa kompromi, ia meminta evaluasi total, pencopotan Kepala SPPG, hingga pemutusan kerja sama dengan mitra yang diduga bermasalah.
Tak hanya itu, Aparat Penegak Hukum (APH) juga diminta segera bergerak menelusuri aliran dana mencurigakan, termasuk memeriksa rekening pihak - pihak terkait.
“Periksa rekeningnya, telusuri apakah ada fee, ada setoran, atau ‘uang pelicin’, kalau ini dibiarkan, MBG bisa jadi ladang bancakan,” tegasnya.
Ia juga menyoroti potensi konflik kepentingan antara pengelola SPPG dan mitra dapur yang diduga memiliki hubungan dekat sebelum program berjalan.
“Jangan sampai program negara dijalankan dengan pola ‘orang dekat dapat proyek’, ini berbahaya,” katanya.
Rizki memastikan pihaknya akan segera melayangkan laporan resmi ke BGN pusat, kejaksaan, dan pemerintah daerah, ia juga meminta seluruh pihak yang disebut, termasuk inisial N dan R, dipanggil dan diperiksa secara terbuka.
“Kalau perlu, bongkar semuanya, jangan ada yang ditutup - tutupi, program ini harus bersih dari praktik busuk,” pungkasnya.
Sementara itu, Kepala SPPG Sei Suka Deras berinisial N, hingga berita ini diterbitkan masih bungkam dan belum memberikan klarifikasi. (Red).














0 Komentar