Header Ads Widget 728X90


MTQ Batu Bara Megah, Janji Rumah Tahfiz Masih Sebatas Pidato

Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XIX Tingkat Kabupaten Batu Bara Tahun 1447 H/2026 M kembali digelar meriah, pidato tentang pentingnya membangun generasi Qurani kembali menggema di hadapan masyarakat, tapi janji rumah tahfiz masih sebatas pidato.

Batu Bara, Ucup News.com

Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) XIX Tingkat Kabupaten Batu Bara Tahun 1447 H/2026 M kembali digelar meriah di Lapangan Indrasakti, Kecamatan Air Putih, Kamis (14/5/2026). 

Panggung megah berdiri, lampu gemerlap menyala, dan pidato tentang pentingnya membangun generasi Qurani kembali menggema di hadapan masyarakat, tapi janji rumah tahfiz masih sebatas pidato.

Pelaksanaan MTQ tersebut ditinjau langsung oleh Bupati Batu Bara, Baharuddin Siagian yang tahun ini mengusung tema “Membangun Karakter Bangsa yang Qurani di Tengah Tantangan Zaman.”

Namun di balik kemeriahan acara tahunan itu, muncul pertanyaan tajam dari masyarakat, sejauh mana pemerintah benar - benar serius membangun generasi Qurani di Batu Bara.

Sebab realitas di lapangan justru masih memperlihatkan kondisi memprihatinkan, banyak pondok pesantren, madrasah diniyah, dan rumah tahfiz Al - Quran bertahan dengan fasilitas seadanya, sebagian bahkan masih mengandalkan bantuan masyarakat dan donasi sukarela agar kegiatan belajar mengajar tetap berjalan.

Ironisnya, para ustaz, guru ngaji, dan pengajar tahfiz yang setiap hari menjaga akhlak generasi muda justru masih hidup dalam keterbatasan, mereka mengabdi bukan karena kesejahteraan, melainkan karena panggilan iman.

Di tengah kondisi itu, masyarakat kembali menagih janji politik yang pernah digaungkan saat kampanye, yakni menghadirkan rumah tahfiz Al - Quran di setiap desa, janji tersebut dulu menjadi magnet politik yang disambut antusias masyarakat Batu Bara.

Namun hingga kini, banyak warga menilai janji itu belum terlihat nyata, sejumlah desa disebut belum memiliki rumah tahfiz sebagaimana yang pernah dijanjikan.

Publik pun mulai mempertanyakan, apakah program keagamaan hanya ramai saat kampanye dan seremoni tahunan, lalu kembali sunyi setelah kekuasaan diraih.

MTQ memang penting sebagai syiar Islam, tetapi masyarakat menilai pembangunan karakter Qurani tidak cukup hanya lewat panggung lomba tilawah setahun sekali.

Masyarakat membutuhkan kebijakan nyata, anggaran yang berpihak kepada pesantren dan madrasah, insentif layak bagi guru agama, serta realisasi rumah tahfiz yang benar - benar berdiri di tengah masyarakat.

Sebab jika rumah tahfiz terus dibiarkan berjuang sendiri, guru agama tetap hidup dalam keterbatasan, dan pesantren hanya dikunjungi saat momentum politik, maka MTQ berisiko hanya menjadi agenda seremonial yang indah dipandang, tetapi miskin perubahan nyata. (Red).

Posting Komentar

0 Komentar