Batu Bara, Ucup News.com
Cita - cita besar Presiden RI Prabowo Subianto untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045 dinilai tidak hanya bergantung pada pembangunan infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga kualitas sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan memiliki budaya literasi yang kuat.
Di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital, Pengawas DPD Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Kabupaten Batu Bara, Radit Ghali Sudewo, mengingatkan adanya ancaman serius terhadap kualitas generasi muda, yakni rendahnya minat membaca dan meningkatnya ketergantungan anak terhadap gadget.
Menurut Radit, bonus demografi yang akan dinikmati Indonesia pada tahun 2045 hanya akan menjadi keuntungan apabila generasi muda dibekali kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan budaya membaca yang baik.
Sebaliknya, bonus tersebut dapat berubah menjadi bencana demografi apabila anak - anak tumbuh tanpa pengawasan dalam penggunaan teknologi digital.
“Teknologi bukan musuh, namun teknologi harus menjadi sarana untuk memperluas wawasan dan meningkatkan kreativitas, bukan menjadi penguasa dalam kehidupan anak - anak,” ujar Radit, Minggu (21/6/2026).
Ia mengungkapkan, berdasarkan data Programme for International Student Assessment (PISA) 2022, skor kemampuan membaca pelajar Indonesia turun menjadi 359 poin, terendah sejak tahun 2000, hanya sekitar 25 persen siswa Indonesia yang mencapai tingkat kompetensi membaca minimum, jauh di bawah rata - rata internasional yang mencapai 74 persen.
Selain itu, penggunaan perangkat digital untuk hiburan di luar kegiatan belajar juga semakin tinggi, kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi mengurangi minat membaca sekaligus meningkatkan risiko anak terpapar berbagai konten negatif di dunia maya.
Radit juga menyoroti kondisi pendidikan masyarakat di Kabupaten Batu Bara yang masih membutuhkan perhatian serius, data kependudukan menunjukkan sebagian besar masyarakat masih berada pada tingkat pendidikan dasar dan menengah, sementara jumlah lulusan perguruan tinggi masih relatif rendah.
Di sisi lain, ancaman digital seperti judi online kini mulai menyasar anak - anak, berdasarkan data Kementerian Komunikasi dan Digital, sekitar 440 ribu anak usia 10 hingga 20 tahun di Indonesia terindikasi terlibat aktivitas judi online, bahkan sebagian di antaranya masih berusia di bawah 10 tahun.
“Ini menjadi alarm bagi seluruh pihak, ruang digital yang seharusnya menjadi sarana belajar bisa berubah menjadi ancaman apabila anak menggunakan gadget tanpa pendampingan orang tua,” tegasnya.
Radit menilai rumah merupakan sekolah pertama bagi anak, sedangkan orang tua adalah filter utama dalam menentukan arah tumbuh kembang mereka di era digital.
Karena itu, orang tua diminta tidak menyerahkan sepenuhnya proses pendidikan anak kepada gadget, Menurutnya, orang tua perlu mengenali aplikasi yang digunakan anak, membatasi waktu penggunaan gadget, serta mengarahkan anak pada konten yang edukatif dan bermanfaat.
“Jangan sampai anak - anak kita menjadi generasi yang mahir memainkan layar, tetapi lemah dalam literasi dan kemampuan berpikir kritis, Indonesia Emas tidak hanya membutuhkan generasi yang kaya informasi, tetapi juga generasi yang kaya ilmu pengetahuan dan karakter,” katanya.
Radit mengajak keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat untuk bersama - sama membangun budaya literasi serta penggunaan teknologi yang sehat, dengan kolaborasi tersebut, ia optimistis Kabupaten Batu Bara mampu melahirkan generasi yang berakhlak, melek teknologi, memiliki daya saing tinggi, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045.
“Anak - anak Batu Bara hari ini adalah calon pemimpin Indonesia pada 2045, karena itu, jangan biarkan mereka tumbuh hanya kaya informasi, tetapi miskin literasi dan karakter, masa depan Indonesia sesungguhnya sedang dipersiapkan dari keluarga hari ini,” pungkasnya. (Red).














0 Komentar