![]() |
PT Indonesia Aluminium Alloy (IAA) harus melewati berbagai proses dan tahapan sebelum akhirnya kembali menunjukkan geliat produksi. |
Batu Bara, Ucup News.com
Empat tahun bukan waktu singkat, sejak berdiri pada 2020, PT Indonesia Aluminium Alloy (IAA) harus melewati berbagai proses dan tahapan sebelum akhirnya kembali menunjukkan geliat produksi.
Kini, anak perusahaan PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) yang beroperasi di Kuala Tanjung, Kabupaten Batu Bara, mulai bangkit, produksi aluminium billet hasil daur ulang (recycle) kembali digenjot dan disebut telah mencapai target produksi.
Direktur Utama PT IAA Ricky Gunawan, didampingi Direktur Operasi Agus Wibowo, mengungkapkan perjalanan IAA sejak 2020 hingga 2024 tidak berlangsung mulus, berbagai proses harus dilalui perusahaan sebelum memasuki fase kebangkitan produksi.
“IAA bergerak di bidang peleburan dan daur ulang billet aluminium sekunder, dengan kapasitas produksi yang dikembangkan secara bertahap hingga mencapai 30.000 ton per tahun,” ujar Ricky saat ditemui di Aula Sam's Caffe and Eatery, Kecamatan Sei Suka, Kabupaten Batu Bara, Jumat (18/9/2026).
Menurut Ricky, PT IAA didirikan pada 22 Mei 2020 sebagai perusahaan yang bergerak di sektor midstream industri aluminium, kehadiran IAA menjadi bagian dari strategi Inalum dalam mengembangkan rantai industri aluminium sekaligus meningkatkan kapasitas dan nilai tambah produk.
Langkah tersebut juga tidak terlepas dari agenda hilirisasi, melalui PT IAA, Inalum mendorong pengolahan aluminium agar tidak berhenti pada produk hulu, tetapi menghasilkan produk turunan yang memiliki nilai tambah dan dapat menyasar pasar yang lebih luas.
Pendirian PT IAA sendiri berawal dari proses akuisisi aset PT Asahan Aluminium Alloys (AAA) oleh PT Inalum pada 9 Oktober 2019, setelah melalui proses tersebut, PT IAA mengembangkan fasilitas produksi Billet Aluminium Recycle dengan sasaran pasar domestik maupun global, perusahaan sebelumnya menargetkan fasilitas tersebut dapat beroperasi secara penuh pada 2023.
Perjalanan empat tahun kemudian menjadi fase penting bagi IAA, dari perusahaan yang masih harus melewati berbagai proses pengembangan dan penyesuaian operasional, kini perusahaan kembali menegaskan geliat produksinya.
Capaian produksi yang telah mencapai target menjadi sinyal bahwa fasilitas pengolahan aluminium di Kuala Tanjung kembali bergerak.
Bagi IAA, kebangkitan produksi bukan sekadar soal mengejar angka produksi, lebih jauh, momentum tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat hilirisasi aluminium, meningkatkan nilai tambah, sekaligus membuka ruang bagi produk aluminium daur ulang untuk bersaing di pasar domestik dan global.
Dengan kapasitas yang secara bertahap diarahkan hingga 30.000 ton per tahun, IAA kini menghadapi tantangan berikutnya, menjaga konsistensi produksi, memperluas pasar, dan memastikan industri aluminium di Kuala Tanjung mampu memberikan nilai tambah yang semakin besar. (Red).














0 Komentar