Header Ads Widget 728X90


Demo Memanas di Batu Bara, Gembara Bongkar Dugaan Carut Marut BUMDes dan Aset Desa

Gelombang protes (Demo) dari Gerakan Mahasiswa bersama Rakyat Batu Bara (Gembara) bersama warga desa turun mengguncang Kantor Desa Lubuk Cuik, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara.

Batu Bara, Ucup News.com

Gelombang protes (Demo) mengguncang Kantor Desa Lubuk Cuik, Kecamatan Lima Puluh Pesisir, Kabupaten Batu Bara, Senin (18/5/2026).

Puluhan massa dari Gerakan Mahasiswa bersama Rakyat Batu Bara (Gembara) bersama warga desa turun ke jalan membongkar dugaan carut - marut pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), aset desa, hingga kisruh internal Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Aksi yang dipimpin Koordinator Gembara M. Salim bersama Koordinator Lapangan Wan Indris tersebut berlangsung panas dan nyaris berujung ricuh setelah terjadi adu mulut antara massa aksi dan sejumlah warga.

Dalam orasinya, massa menuding pengelolaan hutang BUMDes senilai Rp.42.668.000,- kepada penyedia pupuk dan pestisida pada tahun 2025 dilakukan tanpa transparansi. 

Massa bahkan mendesak audit menyeluruh terhadap penggunaan dana dan pertanggungjawaban pengurus BUMDes.

“Kami menduga ada pengelolaan yang tidak terbuka, masyarakat berhak tahu ke mana uang dan aset desa digunakan,” teriak Salim di tengah aksi.

Tak berhenti di situ, massa juga menyoroti keberadaan aset desa berupa sound system karaoke yang disebut berada di rumah seorang pengusaha pupuk bernama Alberto. 

Kondisi itu memicu tanda tanya besar di tengah masyarakat terkait legalitas pemindahan aset desa kepada pihak ketiga.

Sorotan juga mengarah pada ambulans desa yang justru terparkir di halaman rumah Alberto Sitinjak, bukan di kantor desa, massa mempertanyakan siapa yang mengendalikan operasional kendaraan pelayanan masyarakat tersebut dan mengapa pengawasannya dinilai lemah.

Aksi semakin memanas ketika Gembara membongkar polemik internal KDMP Desa Lubuk Cuik, massa menyinggung pengunduran diri Ketua KDMP sebelumnya, Welas Hari, yang disebut tertekan akibat konflik internal koperasi.

Menurut Gembara, dalam rapat koperasi sempat muncul permintaan agar ketua menyerahkan sertifikat pribadi sebagai jaminan modal koperasi, tuduhan adanya kepentingan kelompok tertentu dalam pengelolaan KDMP pun mencuat dalam aksi tersebut.

Situasi sempat nyaris tak terkendali saat sejumlah ibu - ibu mempertanyakan keterlibatan mahasiswa dalam urusan desa, ketegangan berhasil diredam setelah Kapolsek Lima Puluh AKP Salomo Sagala bersama personel turun langsung menenangkan massa.

Di hadapan peserta aksi, Penjabat Kepala Desa Lubuk Cuik MY Daulay akhirnya buka suara, ia mengakui sound system desa memang dijadikan jaminan atas hutang pupuk dan pestisida BUMDes kepada penyalur pupuk.

Sementara ambulans desa, kata dia, ditempatkan di lokasi tersebut karena difungsikan sebagai kantor KDMP, namun operasional kendaraan tersebut masih menunggu arahan dari Bidang Aset BKAD Kabupaten Batu Bara.

Ketua BUMDes Lubuk Cuik, Iswahyudi, mengaku dana desa dan hutang pupuk digunakan untuk pengelolaan tanaman cabai merah seluas 20 rante, namun usaha itu disebut gagal total akibat banjir.

“Hasil penjualan hanya sekitar Rp.5 juta dan digunakan untuk mencicil hutang pupuk serta pestisida,” ujarnya.

Ironisnya, bendahara BUMDes yang disebut paling mengetahui kondisi keuangan justru tidak hadir dalam forum klarifikasi tersebut.

Setelah dimediasi tokoh masyarakat, pihak desa, BUMDes, dan pengurus KDMP akhirnya sepakat menyelesaikan seluruh persoalan dalam waktu satu minggu. 

Namun Gembara memberi ultimatum keras : bila tak ada penyelesaian konkret, kasus dugaan carut - marut aset desa dan BUMDes tersebut akan dibawa ke ranah hukum serta dilaporkan ke aparat penegak hukum dan Inspektorat Kabupaten Batu Bara. (Red).

Posting Komentar

0 Komentar