Batu Bara, Ucup News.com
SMP Negeri 3 Medang Deras, Kabupaten Batu Bara, menggelar “School Menari” perdana sebagai wadah pengembangan bakat seni tari bagi para siswa, kegiatan tersebut perdana dan mendapat sambutan antusias dari para pelajar maupun orang tua siswa.
Program tari melibatkan 21 siswa dari kelas VII dan VIII yang dibagi dalam tiga kelompok tarian daerah, yakni tari Melayu sebanyak enam siswa, Tor - tor Batak sembilan siswa, dan tari Aceh enam siswa.
Pihak sekolah menyebutkan kegiatan tersebut bertujuan untuk meningkatkan kreativitas dan bakat siswa di bidang seni budaya, sekaligus menanamkan kecintaan terhadap keberagaman adat dan tradisi nusantara.
“Seluruh kebutuhan kegiatan ditanggung sekolah, mulai dari pakaian adat hingga perlengkapan lainnya, ada juga dukungan dari orang tua siswa agar anak - anak tampil lebih menarik,” ujar salah seorang guru pembimbing.
Dukungan juga datang dari para orang tua siswa, Susantri (33), didampingi Mislina Harahap dan Pesta Nuli Sinaga, menilai kegiatan menari membawa dampak positif bagi perkembangan anak.
“Kami mendukung kegiatan ini karena banyak manfaatnya, salah satunya mengurangi anak bermain handphone, sekolah juga sudah menyediakan sarana dan prasarana kegiatan menari,” ujarnya, Selasa (19/5/2026).
Ia menambahkan, beberapa orang tua turut memberikan tambahan perlengkapan seperti bros dan celana manset agar penampilan anak - anak lebih maksimal saat tampil.
Sementara itu, Siswi kelas VII, Kalisa bersama Aqila dan Vemi, mengaku bangga dapat mengikuti kegiatan tersebut karena menjadi ruang untuk menyalurkan bakat mereka.
“Kami berterima kasih kepada guru pembimbing, kepala sekolah dan komite yang telah mendukung kegiatan ini, kami jadi lebih percaya diri untuk tampil pada kegiatan berikutnya,” ungkap mereka.
Bantah Isu Pungutan dan Saweran
Komite sekolah juga menanggapi isu miring yang berkembang terkait dugaan siswa mencari sendiri pakaian adat hingga adanya pengambilan saweran usai penampilan tari.
Komite Sekolah, Asri, menegaskan kabar tersebut tidak benar, menurutnya, seluruh dukungan yang diberikan bersifat sukarela dari orang tua untuk kebutuhan anak masing - masing.
“Dari dia untuk dia, tidak ada untuk guru, pembimbing maupun pihak sekolah,” tegasnya.
Ia berharap jika terdapat kesalahpahaman atau informasi yang belum jelas, pihak terkait dapat melakukan klarifikasi langsung kepada sekolah agar tidak menimbulkan miskomunikasi di tengah masyarakat. (Red).














0 Komentar